Rabu, 28 April 2010

Cerebral Palsy

a. Definisi
Cerebral palsy (CP) adalah suatu kerusakan jaringan otak yang menetap tidak progresif, meskipun gambaran klinisnya dapat berubah selama hidup, terjadi pada usia dini dan menghalangi perkembangan otak normal dengan menunjukkan kelainan postur dan pergerakan disertai kelainan neurologis berupa gangguan pada cortex cerebri, ganglia basalis dan cerebellum (Soetomenggolo & Ismael, 1999). Menurut Shepherd (1995) CP didefinisikan sebagai sekumpulan kelainan otak non progresif yang menyebabkan lesi atau perkembangan yang abnormal pada kehidupan janin atau awal masa anak-anak. Miller dan Bachrach (1998) mendefinisikan CP sebagai sekumpulan gangguan motorik yang diakibatkan dari kerusakan pada otak yang terjadi sebelum, selama dan sesudah kelahiran. Kerusakan otak pada anak mempengaruhi sistem motorik dan akibatnya anak tersebut mempunyai koordinasi yang lemah, keseimbangan yang lemah, pola gerak yang abnormal atau gabungan dari karakteristik tersebut.
Dalam kamus kedokteran dorlan (2005) definisi CP yaitu setiap kelompok gangguan motorik yang menetap, tidak progresif, yang terjadi pada anak kecil yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat trauma lahir atau patologi intra uterine. Gangguan ini ditandai dengan perkembangan motorik yang abnormal atau terlambat, seperti paraplegia spastik, hemiplegia atau tetraplegia, yang sering disertai dengan retardasi mental, kejang atau ataksia.
Definisi spastik menurut kamus kedokteran Dorlan (2005) adalah bersifat atau ditandai dengan spasme. Hipertonik, dengan demikian otot-otot kaku dan gerakan kaku.
Diplegi adalah paralisis yang menyertai kedua sisi tubuh, paralisis bilateral (Dorlan, 2005). Diplegia merupakan salah satu bentuk CP yang utamanya mengenai kedua belah kaki (Dorlan, 2005).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa CP Spastik Diplegia adalah suatu gangguan tumbuh kembang motorik anak yang disebabkan karena adanya kerusakan pada otak yang terjadi pada periode sebelum, selama dan sesudah kelahiran yang ditandai dengan kelemahan pada anggota gerak bawah yang lebih berat daripada anggota gerak atas, dengan karakteristik tonus postural otot yang tinggi terutama pada regio trunk bagian bawah menuju ekstremitas bawah. Pada CP spastik diplegia kadang-kadang disertai dengan retardasi mental, kejang dan gambaran ataksia.

b. Etiologi

Penyebab CP secara umum dapat terjadi pada tahap prenatal, perinatal dan pascanatal.

1) Pranatal

Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh infeksi pada saat kehamilan (lues, toksoplasma, rubela dan penyakit inklusi sitomegalik). Anoksia dalam kandungan (anemia, kerusakan pada plasenta), terkena radiasi sinar-X dan keracunan kehamilan dapat menimbulkan CP. Kelainan yang mencolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental.

2) Perinatal

a) Anoksia/hipoksia
Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Hal ini terdapat pada kelahiran bayi abnormal, disproporsi sefalo-pelvik, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu dan lahir dengan bedah caesar.

b) Perdarahan otak

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya. Perdarahan dapat terjadi di ruang sub arachnoid yang akan menyebabkan penyumbatan cairan cerebro spinalis sehingga mengakibatkan hidrocephalus. Perdarahan di ruang subdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastik.

c) Ikterus

Ikterus pada masa neonatal dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang permanen akibat masuknya bilirubin ke ganglia basalis, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.

d) Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa CP.
e) Prematuritas
Pematuritas dapat diartikan sebagai kelahiran kurang bulan, lahir dengan berat badan tidak sesuai dengan usia kelahiran atau terjadi dua hal tesebut. Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna. Pada pasien cerebral palsy spastik diplegi biasanya terjadi pada kasus kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan anoksia berat pada saat kelahiran.

3) Pascanatal
Kerusakan yang terjadi pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan CP. Misalnya pada trauma kapitis, meningitis, ensepalitis dan luka parut pada otak pasca bedah. Bayi dengan berat badan lahir rendah juga berpotensi mengalami CP.

c. Patologi
CP spastik diplegia dari beberapa literature diasumsikan oleh karena adanya hemorage dan periventricular leukomalacia pada area subtanstia alba atau kortek motor. Haemorage dan periventricular leukomalacia merupakan gambaran klinis cerebral palsy. Periventricular leukomalacia adalah necrosis dari white matter sekitar ventrikel akibat dari menurunnya kadar oksigen dan arus darah pada otak yang biasanya terjadi pada spastik diplegi. Periventricular leukomalacia sering terjadi bersamaan dengan lesi haemoragic dan potensi terjadi selama apnoe pada bayi prematur. Baik periventricular leukomalacia maupun lesi haemoragic dapat menyebabkan spastik diplegi. Hal ini sekaligus menguatkan arti patogenesis adalah kejadian kerusakan pada white matter (de Vriest et al, 1985 yang dikutip Sheperd,1997).

d.Tanda dan Gejala
Pada anak dengan CP spastik diplegi biasanya ditandai dengan kelemahan anggota gerak bawah. Adanya spastisitas pada tungkai bawah. Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi pada gerakan ekstrimas bawah serta gangguan pola jalan. Pada gangguan pola jalan terdapat ciri khas yaitu pola jalan menggunting (scissor gait) dengan fleksi hip dan knee,endorotasi dan adduksi hip,plantar fleksi dan inversi kaki (Sheperd,1997).
e. Prognosis
Prognosis pasien dengan manifestasi motor yang ringan adalah baik, makin banyak manifestasi penyertanya dan makin berat manifestasi motornya, makin buruk prognosisnya. Selain itu pemberian terapi dengan dosis yang tepat dan adekuat juga berpengaruh terhadap prognosis pasien. Semakin tepat dan adekuat terapi yang diberikan semakin baik prognosisnya.Dilihat dari quo ad vitam : baik,quo ad sanam : baik,quo ad fungsional : baik dan quo ad cosmeticam : jelek.
Dalam penelitian ditemukan bahwa tipe dan beratnya CP berguna berguna sebagai petunjuk untuk memprediksi ambulasi.Kebanyakan anak CP spastik diplegi lazimnya mempunyai keberhasilan yang berbeda yaitu 65% dapat berjalan tanpa alat bantu,20% dapat berjalan dengan alat bantu dan sekitar 15% dapat berambulasi dengan kursi roda dan tidak dapat berjalan (Molnar,1979,dikutip oleh Campbell 1998).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar