Senin, 10 Agustus 2009

Tendinitis Achilles

Tendinitis Achilles
DEFINISI

Tendinitis Achilles adalah suatu peradangan pada tendon Achilles, yaitu urat daging yang membentang dari otot betis ke tumit.

Otot betis dan tendon Achilles berfungsi menurunkan kaki bagian depan setelah tumit menyentuh tanah dan mengangkat tumit ketika jari-jari kaki ditekan sebelum melangkah dengan kaki yang lainnya.

PENYEBAB
Tendinitis achilles terjadi jika tekanan pada tendon lebih besar dibandingkan dengan kekuatan tendon tersebut.
Berlari menuruni bukit memberikan tekanan lebih pada tendon achilles karena kaki bagian depan harus melangkah lebih jauh sebelum menyentuh tanah.
Berlari menaiki bukit juga memberikan tekanan berlebih pada tendon achilles karena otot betis harus mengerahkan tenaga lebih besar untuk mengangkat tumit ketika jari-jari kaki didorong.

Berbagai faktor biomekanik yang cenderung menyebabkan cedera pada tendon Achilles:
- Pronasi (berputar ke dalam) kaki yang berlebihan
- Kebiasaan berpijak terlalu jauh dari tumit
- Urat lutut dan otot betis yang kaku
- Lengkung kaki yang tinggi
- Tendon Achilles yang kaku
- Kelainan bentuk tumit.

GEJALA
Gejala utamanya adalah nyeri, yang biasanya sangat hebat jika penderita bangun dari duduk atau berbaring atau ketika penderita mulai berlari.
Nyeri seringkali mereda jika penderita terus berjalan atau lari, walalupun terasa nyeri dan kaku.

Tendon Achilles terbungkus dalam suatu selubung pelindung; diantara tendon dan selubungnya terdapat lapisan lemak yang tipis, yang memungkinkan tendon bergerak dengan bebas.
Jika tendon mengalami cedera, akan terbentuk jaringan parut diantara tendon dan selubungnya, sehingga setiap kali bergerak, tendon akan menarik selubung pembungkusnya. Itulah sebabnya mengapa pergerakan menyebabkan rasa nyeri.

Terus berjalan atau berlari akan mengurangi nyeri karena menyebabkan meningkatnya suhu dari selubung, sehingga menjadi lebih lentur dan tendon dapat bergerak lebih bebas.

Menekan tendon biasanya juga akan menyebabkan nyeri.

Jika penderita tidak menghiraukan nyeri yang terjadi dan terus berlari, maka jaringan parut yang kaku akan menggantikan tendon yang elastik dan tendon akan selalu terluka selama penderita melakukan latihan, tanpa disertai kemungkinan untuk sembuh.

DIAGNOSA
Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri tumpul di sepanjang tendon yang terkena dan jika diberikan tahanan terhadap otot yang menempel pada tendon tersebut, maka akan timbul nyeri.

PENGOBATAN
Berhenti berlari dan menggantinya dengan bersepeda selama nyeri menetap, merupakan bagian penting dari pengobatan.

Tindakan lainnya tergantung kepada penyebab atau keadaan penderita.
Menggunakan sepatu dengan bagian telapak yang lentur dan pemasangan lapisan sepatu bisa mengurangi ketegangan tendon dan menstabilkan tumit.

Latihan untuk meregangkan otot lutut bisa dimulai segera setelah nyeri hilang.
Demikian pula halnya dengan latihan untuk memperkuat tendon Achilles.

Penderita sebaiknya tidak berlari menaiki bukut atau menuruni bukit dengan kecepatan tinggi sampai tendonnya telah sembuh sempurna, yang biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberapa tahun.

Tendinitis Supra spinatus

PATOLOGI


Tendinitis pada salah satu otot rotator bisa terjadi berdasarkan perubahan-perubahan degeneratif, dengan atau tanpa adanya pembebanan yang terlalu berat. Petunjuk bahwa pembebaban terlalu berat sering ditemui dalam anamnesis. Keluhannya tidak dapat dibedakan dari keluhan kebanyakan gangguan bahu lainnya.

Tendon otot supraspinatus sebelum berinsersio pada tuberkulum majus humeri, akan melewati terowongan pada daerah bahu yang dibentuk oleh kaput humeri (dengan bungkus kapsul sendi glenohumerale) sebagai alasnya, dan akromion serta ligamentum coraco acromiale sebagai penutup bagian atasnya. Disini tendon tersebut akan saling bertumpang tindih dengan tendon dari kaput longus biseps. Adanya gesekan dan penekanan yang berulang-ulang serta dalam jangka waktu yang lama oleh tendon biseps ini akan mengakibatkan kerusakan tendon otot supraspinatus dan berlanjut sebagai tendinitis supraspinatus.

Tendinitis supra spinatus dapat disertai ataupun tanpa adanya kalsifikasi. Ada tidaknya klasifikasi mempunyai hubungan langsung dengan ada tidaknya rasa nyeri. Rasa nyeri dapat timbul bila defosit berdiameter 5 mm atau lebih (kadang defosit kalsiumnya kurang dari 1,5 cm dimeternya bersifat asimtomatis). Rasa nyeri ini timbul karena kristal kalsium hidrokxyapatite yang ada ditempat tersebut menjebol masuk kedalam bursa subacromialis, yang selanjutnya menimbulkan bursitis akut. Penderita tendinitis biasanya datang dengan keluhan nyeri bahu yang disertai keterbatasan gerak sendi bahu. Bila ditelusuri, daerah rasa nyerinya adalah di seluruh daerah sendi bahu. Rasa nyeri ini dapat kumat-kumatan, yang timbul sewaktu mengangkat bahu. Pada malam hari nyeri ini dirasakan terus-menerus, dan bertambahnya nyeri bila lengan diangkat. Keluhan umum yang biasanya disampaikan adalah kesulitan memakai baju, menyisir rambut, memasang konde atau kalau akan mengambil bumbu dapur di rak gantung bahunya terasa nyeri.

TEKNIK PEMERIKSAAN

Pada pemeriksaan fungsi kita dapat menemukan adanya rasa sakit, baik pada otot yang bersangkutan (secara isometric) ditegangkan, maupun pada saat otot tersebut dikedangkan secara pasif. Pada tes daya tahan M. Supraspinatus dengan abduksi dan tes penguluran pasif dengan endorotasi + aduksi, maka akan timbul rasa sakit.

Sering kali kita melihat suatu kombinasi antara painful arc dan adanya rasa sakit pada tes daya tahan tesebut. Hal ini masuk akal, karena M. Supraspinatus dan dua otot lainnya yaitu M. Subscapularis dan M. Infraspinatus terjepit sewaktu abduksi kombinasi. Diharapkan bahwa dengan ada tidaknya rasa sakit pada tes daya tahan berarti adanya luka tendon atau adanya bursitis. Dalam praktek hal ini kurang jelas. Menegangkan otot dengan kuat pun menyebabkan kompensasi bursa. Oleh karena itu, kita sering mendapat satu atau lebih tes daya tahan yang menimbulkan rasa sakit pada pasien dengan bursitis subacromilis. Ada berbagai cara :

- Pengulangan tes daya tahan dalam sikap lain, misalnya dengan berbaring. Sering pada posisi ini tiba-tiba menimbulkan rasa sakit, atau terjadi bahwa tes-tes ini yang semula menimbulkan rasa sakit, sekarang tidak menimbulkan rasa sakit lagi. Kemungkinan besar bahwa dalam hal itu diagnosanya adalah bursitis.

- Pengulangan tes daya tahan yang menimbulkan rasa sakit di bawah traksi. Traksi pada lengan atas mengakibatkan terjadinya pengedangan tendon, tetapi memberikan ruang lebih luas untuk bursa. Bila tes ini kurang menimbulkan rasa sakit dibandingkan dengan tiadanya trakasi, maka hal ini mendukung diagnosa adanya bursitis. Sedangkan bila rasa sakitnya sama, atau malah lebih sakit maka ini mendukung diagnosa adanya luka tendon.

- Pemberian anastesi local pada bursa atau tempat perlengketan tendon. Apabila beberapa menit setelah diberi anastesi tidak timbul rasa sakit lagi saat dilaksanakan tes daya tahan, hal ini berarti bahwa lukanya berada didalam struktur yang telah diberi obat bius tersebut.

Pengulangan tes daya tahan dibawah traksi tidak mengurangi rasa sakit (dalam hal bursitis sakitnya berkurang). Suatu tendopati inersi sering juga disertai oleh painful arc.

Secara umum teknik pemeriksaan pada kasus tendinitis supra spinatus

a. Keterangan umum pasien

b. Data medis RS

· Diagnosa

· Catatan klinis

· Terapi medis

c. Fisioterapi

1. Anamnesis

· Keluhan utama

· Riwayat penyakit sekarang

· Riwayat penyakit dahulu

· Riwayat penyakit penyerta

· Riwayat pribadi

· Riwayat kluarga

2. Inspeksi

Inspeksi sudah bisa dimulai dari saat pasien masuk. Selanjutnya pasien diperiksa dalam berbagai posisi : posisi kepala, simetri kontur tubuh, posisi tulang belakang, berubahnya warna kult, atrofi otot, pembengkakan yang abnormal. Adanya asimteri ringan sebagai akibat scoliosis torakal yang ringan tidak mempunyai arti klinis. Juga posisi bahu dominant yang agak lebih rendah merupakan gejala yang normal, yang terutama pada olahragawan serinh ditemukan.

3. Pemerisaan fungsi

Pemeriksaan fungsi yang dilakukan adalah secara keseluruhan. Mula-mula fungsi tulang belakang bagian servical/leher, selanjutnya pemeriksaan fungsi scapula dan clavicula. Dan selanjutnya pemeriksaan bahu yang lebih khusus.

Secara khusus pemeriksaan tendonitis supraspiantus adalah :

- Melakukan tes daya tahan dibawah traksi pada sendi bahu dengan abduksi dengan berbagai macam posisi. Bila sakit yang dirasakan tidak ada perubahan intensitas, maka kemungkinan adanya tendinis supraspinatus.

- Melakukan tes penguluran pasif pada sendi bahu dengan endorotasi disertai aduksi bahu. Tes ini positif bila ada rasa nyeri.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang dapat ditemui pada kasus tendinitis supraspinatus :

1. Adanya nyeri tekan pada tendon supraspinatus yang berinsertio pada tuberculum mayus

2. Keluhan nyeri timbul bila lengan diabduksikan aktif dari 60 -75 derajat, rasa nyeri diarasakan di seluruh daerah bahu dan dapat mengganggu tidur.

INTERVENSI FISIOTERAPI

Pengobatan tendonitis pada bahu, kalau memungkinkan terarah pada penyebabnya, jika penyebab tersebut dapat ditunjukkan. Terapi local dapat diberikan fisioterapi dengan berbagai jenis cara. Bentuk pengobatan yang popular adalah friksi melintang, suatu teknik memijit yang sifatnya sangat local.

Suatu suntikan dengan sebuah anaestheticum local atau preparat kortikosteroid dapat dipertimbangkan, jika cara-cara pengobatan yang lain tidak mempunyai efek

Secara umum penanganan yang dapat diberikan adalah :

1. Diberi kompres hangat untuk mengurangi spasme otot supraspinatus

2. Massage pada tendon supraspinatus

Dengan menggunakan tehnik transver friction

Tujuan diberi massage ini untuk

- Mengurangi nyeri

- Relaksasi otot

- Peningkatan vaskularisasi

3. Terapi elektris dengan menggunakan SWD

4. Terapi latihan


Referensi :

- Mens, J.M.A and deWolf, A.N; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh;Cetakan kedua, Houten, 1994

- Husdaya, Prastya ; Rematologi; Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisoterapi, Surakarta, 2002

- www. Physio.com